BALI, PUNGGAWANEWS – Siapa sangka, bungkus makanan ringan yang dibuang begitu saja setelah isinya habis ternyata bisa menopang langkah kaki seseorang. Di Bali, sebuah inovasi sedang mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah plastik, khususnya jenis yang selama ini paling sulit ditangani.
Plastik multilapis atau multi-layered plastic (MLP) adalah jenis kemasan yang terdiri dari beberapa lapisan material berbeda. Jenis plastik inilah yang paling banyak digunakan untuk membungkus makanan ringan, karena mampu menjaga kesegaran produk dan memperpanjang masa simpan. Namun di balik fungsinya yang praktis, MLP menyimpan persoalan besar: plastik jenis ini sangat sulit didaur ulang dengan cara konvensional.
Berbeda dengan botol plastik biasa yang sudah memiliki jalur daur ulang yang lebih mapan, MLP membutuhkan teknologi khusus untuk diproses kembali. Akibatnya, kemasan-kemasan ini kerap berakhir sebagai residu yang menumpuk di tempat pembuangan akhir, atau lebih parah lagi, berakhir mencemari lingkungan. Ironisnya, jumlah MLP yang beredar terus bertambah seiring meningkatnya konsumsi makanan ringan setiap harinya.
Kondisi inilah yang mendorong Bali Waste Cycle (BWC) untuk mengambil langkah berbeda. Alih-alih melihat sampah plastik sebagai beban, BWC justru memandangnya sebagai material yang masih memiliki potensi. Perusahaan ini mengembangkan sistem pengolahan limbah MLP menjadi produk-produk baru yang fungsional dan bernilai guna.
Bali dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai destinasi wisata kelas dunia, pulau ini menghadapi tekanan pengelolaan sampah yang luar biasa besar. Jutaan wisatawan yang datang setiap tahun turut berkontribusi pada meningkatnya volume limbah yang harus ditangani. Tantangannya bukan sekadar mengumpulkan sampah, melainkan memastikan sampah tersebut tidak menciptakan masalah baru setelah dipindahkan dari pandangan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.