Fenomena ini mirip dengan industri bioskop. Tiket film memang yang membuat orang datang. Tapi popcorn dan minuman-lah yang membuat bioskop benar-benar untung. Di angkringan, nasi kucing dan gorengan adalah alasan orang duduk berlama-lama. Tapi teh manis panas dan kopi hitam adalah mesin uang yang diam-diam menopang semua itu.

Jika keuntungan kotor dari makanan dan minuman digabung—Rp5.764.500—lalu dikurangi biaya operasional tersembunyi Rp1.285.000, maka laba bersih realistis per bulan adalah sekitar Rp4,48 juta.

Dengan modal awal Rp6,5 juta, modal bisa kembali dalam waktu kurang dari satu setengah bulan. Cepat memang. Tapi kalau pemilik hanya fokus memperbanyak nasi kucing dan mengabaikan minuman, angkringannya bisa ramai pengunjung namun tetap tipis keuntungannya—tanpa pernah mengerti mengapa.

Ada beberapa faktor yang membedakan angkringan yang benar-benar menguntungkan dari yang sekadar bertahan. Lokasi adalah faktor paling krusial. Angkringan di dekat kampus, kantor, atau kawasan padat penduduk punya arus pengunjung yang jauh lebih konsisten. Variasi menu minuman juga menentukan. Pemilik yang hanya menyediakan teh dan kopi punya margin yang oke, tapi tidak optimal. Menambah wedang jahe, susu jahe, atau kopi susu kekinian bisa mendongkrak harga jual tanpa banyak menambah biaya produksi.

Manajemen stok juga penting. Kemampuan memperkirakan berapa porsi nasi kucing yang harus disiapkan setiap malam—tidak lebih, tidak kurang—akan mengurangi kerugian dari bahan yang tidak terjual. Selain itu, penting untuk tidak memulai bisnis ini dengan modal pinjaman berbunga. Jika Rp6,5 juta itu berasal dari kredit, cicilan dan bunga bisa menggerus habis laba bersih yang sudah tipis.



Follow Widget