Bayangkan skenario malam yang ramai: 50 orang mampir, masing-masing menghabiskan rata-rata Rp10.000. Omzet per malam Rp500.000, dikali 30 hari menjadi Rp15 juta sebulan. Angka itu memang menggoda. Tapi kondisi lapangan jarang seindah hitungan di kertas.
Kenyataannya, malam Senin sepi, malam hujan tambah sepi. Stok kadang habis terlalu cepat, kadang bersisa hingga basi. Dengan asumsi yang lebih realistis—35 pengunjung per malam dengan pengeluaran rata-rata Rp9.000—omzet bulanan turun menjadi sekitar Rp9,45 juta. Berkurang lebih dari sepertiga hanya dari koreksi asumsi awal.
Dan itu baru omzet kotor. Belum dipotong biaya-biaya yang sering dianggap sepele namun menggerogoti pelan-pelan.
Biaya sewa listrik dari tetangga atau toko sekitar bisa mencapai Rp450.000 sebulan. Gas LPG untuk memasak dan menyeduh minuman sepanjang malam sekitar Rp250.000. Bensin untuk menarik gerobak atau mengangkut bahan dari pasar, Rp150.000. Belum lagi depresiasi alat: gerobak, kompor, termos—semua akan aus dan perlu diganti dalam dua tahun. Jika dihitung merata dari total modal peralatan, ada biaya penyusutan tersembunyi sekitar Rp270.000 per bulan yang terus berjalan meski tidak terasa.
Satu lagi yang jarang masuk hitungan: bahan yang tidak habis terjual. Nasi kucing yang basi, gorengan yang mengeras, lauk yang tidak laku—semuanya jadi kerugian nyata. Estimasinya sekitar 5 persen dari total biaya bahan baku, atau sekitar Rp165.000 per bulan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.