Jika dijumlah, total biaya operasional “tersembunyi” ini mencapai Rp1.285.000 per bulan. Kecil memang jika dilihat satu per satu. Tapi kalau tidak dihitung, pemilik akan terus merasa untung yang didapat tidak sebesar bayangan—tanpa pernah tahu penyebabnya.
Sekarang masuk ke bagian yang paling mengejutkan.
Dari omzet realistis Rp9,45 juta, sekitar 60 persennya—atau Rp5,67 juta—berasal dari penjualan makanan: nasi kucing, lauk, gorengan, dan sate. Tapi biaya produksinya tinggi. Beras, lauk-pauk, minyak goreng—semuanya terus naik. Biaya bahan untuk makanan mencapai sekitar 55 persen dari harga jual, sehingga keuntungan bersih dari sektor makanan hanya Rp2.551.500.
Bandingkan dengan minuman, yang hanya menyumbang 40 persen omzet atau sekitar Rp3,78 juta. Biaya produksinya? Hanya sekitar 15 persen dari harga jual. Air panas, gula, teh celup, atau kopi bubuk—modalnya sangat kecil. Keuntungan bersih dari minuman mencapai Rp3.213.000.
Artinya, minuman yang selama ini dianggap sekadar pelengkap—teman duduk-duduk sambil ngobrol—justru menyumbang 56 persen dari total keuntungan kotor. Sementara makanan, yang jadi alasan utama orang datang dan menjadi andalan menu, hanya menyumbang 44 persen.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.