Permintaan itu bukan tanpa dasar. Pesawat water bombing berkapasitas besar mampu menjatuhkan volume air jauh lebih banyak dalam satu kali penerbangan dibanding armada yang selama ini digunakan. Dengan asumsi cuaca mendukung dan lokasi api bisa dijangkau, teknologi ini bisa menjadi faktor penentu dalam memadamkan sisa 209 hektare lahan yang masih membara.

Karhutla di Indonesia bukan persoalan baru. Setiap tahun, ancaman ini muncul bersamaan dengan datangnya musim kemarau, terutama ketika fenomena El Niño memperpanjang periode kering. Lahan gambut yang kering menjadi bahan bakar sempurna yang sangat sulit dipadamkan karena api bisa merambat di bawah permukaan tanah jauh dari jangkauan pandangan mata.

Para petani yang masih menggunakan metode tebang bakar untuk membuka lahan turut menjadi faktor yang memperparah kondisi. Meski regulasi telah ada dan sanksi telah ditetapkan, praktik ini masih ditemukan di berbagai wilayah. Penegakan hukum yang konsisten menjadi bagian dari solusi jangka panjang yang tidak bisa diabaikan.

Di sisi lain, langkah pemerintah yang kini menempatkan Karhutla sebagai agenda Rapat Terbatas di level presiden mengirim pesan penting: ini bukan urusan biasa. Ini adalah krisis lingkungan yang membutuhkan respons dari pucuk pimpinan negara.

Dengan 209 hektare lahan yang masih terbakar dan asap yang belum sepenuhnya sirna, perjuangan belum usai. Tapi arah yang ditunjukkan dari Istana Merdeka pada Rabu sore itu cukup jelas: tidak ada ruang untuk kendor, dan setiap opsi pemadaman harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.



Follow Widget