Lonjakan harga minyak setinggi itu bukan sekadar angka di layar bursa. Dampaknya merembet ke mana-mana: inflasi merangkak naik, nilai tukar rupiah tertekan, dan kepercayaan pasar goyah. Mereka yang hadir di ruangan itu pada Jumat kemarin adalah orang-orang yang pernah merumuskan respons kebijakan di tengah badai tersebut.

Airlangga menilai, dibanding episode-episode krisis sebelumnya, kondisi makroekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih solid. Fundamental ekonomi dinilai lebih kuat, dan pelemahan nilai tukar rupiah pun masih dalam batas yang terkendali.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” jelasnya.

Angka depresiasi 5 persen itu memang jauh lebih ringan dibanding tekanan nilai tukar yang pernah dialami Indonesia di masa krisis. Namun bukan berarti pemerintah bisa lengah. Dinamika global terus bergerak cepat dan tidak selalu bisa diprediksi.

Itulah mengapa Presiden Prabowo tidak berhenti pada mendengar. Ia segera menerjemahkan pelajaran dari pertemuan itu menjadi instruksi konkret kepada jajaran terkait. Prabowo meminta Menteri Keuangan untuk terus memantau dan mengevaluasi regulasi-regulasi yang dapat memperkuat stabilitas sektor keuangan nasional.