Kebumen, bagi Prabowo, bukan titik akhir. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menggarap proyek serupa dengan skala yang jauh lebih besar di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Lahan yang disiapkan di sana mencapai 2.000 hektare — dua puluh kali lipat luas BUBK Kebumen. Jika model Kebumen terbukti berhasil, Waingapu disiapkan menjadi mesin produksi udang nasional berikutnya.
Kehadiran Presiden di Kebumen bukan tanpa latar belakang. Sebelum menjabat sebagai kepala negara, Prabowo pernah meninjau kawasan yang sama saat masih menjadi Menteri Pertahanan. Kunjungan kali ini menjadi penegasan bahwa perhatiannya terhadap sektor kelautan dan perikanan bukan sekadar gestur politik, melainkan bagian dari agenda pembangunan yang ia pegang konsisten sejak lama.
Pemerintah memposisikan udang sebagai komoditas strategis nasional dengan dua fungsi sekaligus: memperkuat ketahanan pangan domestik dan mendongkrak daya saing ekspor perikanan Indonesia di pasar global. Dengan pengelolaan tambak yang menerapkan kaidah good aquaculture practices, udang Indonesia diyakini mampu bersaing — bahkan mendominasi — pasar internasional.
Potensi itu bukan angan-angan. Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, iklim tropis yang ideal untuk budi daya udang, dan sumber daya laut yang belum terkelola secara optimal. Yang selama ini kurang adalah sistem — tata kelola modern, teknologi tepat guna, dan ekosistem industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
BUBK Kebumen menjawab kebutuhan itu. Ia bukan sekadar tambak percontohan, melainkan bukti bahwa sistem terpadu bisa dijalankan, menguntungkan, dan direplikasi. Dari Kebumen ke Waingapu, lalu — jika ekspansi berjalan sesuai rencana — ke wilayah-wilayah pesisir lainnya di Nusantara.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.