Ia menambahkan, Zionisme bukan sekadar ideologi politik biasa. Dalam pandangan MUI, Zionisme adalah bentuk imperialisme yang telah terbukti menghancurkan kedaulatan dan kemanusiaan rakyat Palestina selama puluhan tahun.
MUI juga mengingatkan kembali fatwa yang telah mereka keluarkan sebelumnya, yang secara tegas mengharamkan segala bentuk dukungan terhadap Israel maupun pihak-pihak yang terlibat dalam mendukung pendudukan atas Palestina. Fatwa itu, menurut MUI, seharusnya menjadi acuan bagi seluruh pemangku kebijakan dalam mengambil keputusan terkait acara-acara yang melibatkan figur kontroversi semacam ini.
Persoalan ini sekaligus menempatkan pemerintah pada posisi dilematis. Di satu sisi, konser Bocelli dipandang sebagai peluang mendatangkan wisatawan dan meningkatkan pendapatan sektor ekonomi kreatif. Di sisi lain, tekanan dari MUI dan kelompok masyarakat sipil yang peduli terhadap isu Palestina terus menguat.
Bocelli sendiri dikenal sebagai salah satu tenor paling berpengaruh di dunia. Suaranya yang khas dan penampilan panggungnya yang memukau telah menyedot jutaan penonton di berbagai penjuru dunia. Namun, justru rekam jejaknya di luar panggung itulah yang kini menjadi batu sandungan di Indonesia.
Pemilihan Candi Borobudur sebagai salah satu lokasi konser turut menambah bobot kontroversi. Situs warisan dunia UNESCO yang merupakan candi Buddha terbesar di dunia itu memang kerap dijadikan venue konser bertaraf internasional. Namun penggunaan situs suci sebagai panggung bagi figur yang dianggap kontroversial secara politik dinilai tidak tepat oleh sebagian kalangan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.