JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Sel-sel penjara di Indonesia sesak melampaui batas. Di balik jeruji besi, ratusan ribu warga binaan berbagi ruang yang jauh dari layak—antre mandi dengan air kotor, menunggu jatah makan yang tak memenuhi standar gizi, tidur berdesakan dalam satu kamar sempit. Inilah gambaran nyata lapas dan rutan Indonesia yang diungkap Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Yusril berbicara usai Rapat Koordinasi Tingkat Menteri yang digelar di Trinity Tower, Jakarta Selatan. Pertemuan itu melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Polri dan Kejaksaan Agung, untuk membahas solusi konkret atas krisis hunian penjara yang sudah lama menggerogoti sistem pemasyarakatan Indonesia.

Angka yang disampaikan Yusril cukup mengejutkan. Lapas dan rutan yang seharusnya menampung 100 orang kini rata-rata dihuni 185 orang—hampir dua kali lipat dari kapasitas semestinya. Kondisi ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan menyentuh hak-hak paling dasar manusia: kesehatan, kebersihan, dan martabat.

Yusril menggambarkan betapa beratnya kehidupan sehari-hari di dalam lapas. Satu sel bisa dihuni hingga 25 orang. Fasilitas kamar mandi dan toilet sangat terbatas. Pagi hari menjadi momen paling menyiksa: penghuni harus antre panjang hanya untuk mandi dan buang air, sementara air yang tersedia pun sering kali kotor dan memicu penyakit kulit.

Bukan hanya soal tempat tidur yang tidak cukup. Pelayanan kesehatan pun jauh dari memadai. Jatah makan yang diterima warga binaan disebut tidak memenuhi standar gizi yang layak. Air bersih menjadi barang langka. Kondisi ini, menurut Yusril, mencerminkan ironi besar: negara memenjarakan orang, tapi tidak mampu menjamin keselamatan fisik mereka di balik tembok penjara itu sendiri.



Follow Widget