Nilai strategis kolaborasi ini semakin terasa ketika Jebul Suroso berbicara. Rektor UMP yang sekaligus menjabat Komisaris PT Ausilabs Pharma Indonesia itu menegaskan bahwa pabrik di Kendal bukan proyek bisnis biasa. Ini adalah wujud konkret dari cita-cita hilirisasi riset yang selama ini sering mandek di atas kertas.

Menurut Jebul, UMP memiliki modal akademik yang solid. Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Farmasi, hingga unit rumah sakit milik kampus selama ini berjalan masing-masing tanpa kanal yang menghubungkan temuan riset dengan produksi nyata. Pabrik inilah yang akan menjadi kanal itu.

“Keberadaan pabrik ini secara langsung menjembatani kapasitas riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri manufaktur,” kata Jebul. Ia berharap kehadiran fasilitas produksi ini mampu memperkuat rantai pasok layanan kesehatan secara berkelanjutan, sekaligus mempererat hubungan antara pendidikan tinggi, riset, dan industri.

Dari sisi organisasi, Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir membingkai proyek ini dalam narasi dakwah ekonomi. Muhammadiyah, katanya, selama ini sudah mengelola ratusan rumah sakit dan klinik di seluruh Indonesia. Namun kekuatan di sisi pelayanan belum diimbangi kemandirian di sisi produksi. Ketergantungan pada pasokan dari luar masih menjadi titik lemah yang perlu segera diatasi.

“Kekuatan pelayanan kesehatan tersebut harus diimbangi dengan kedaulatan industri dan rantai pasoknya,” tegas Tafsir. Baginya, groundbreaking ini bukan seremoni, melainkan pernyataan sikap bahwa Muhammadiyah siap bermain di ranah industri strategis, bukan hanya sektor sosial dan pendidikan.



Follow Widget