Tipe kedua adalah jemaah yang menganggap haji sekadar perjalanan wisata, sebuah kesempatan berlibur ke luar negeri dengan balutan label religi. Mereka tidak akan mendapatkan keutamaan haji secara maksimal karena orientasinya bukan kepada Allah, melainkan kepada kesenangan duniawi.

Tipe ketiga — dan inilah yang diharapkan ada pada setiap jemaah Indonesia — adalah mereka yang datang semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rela mengeluarkan biaya besar, menguras fisik, dan mengorbankan kenyamanan, semua demi ketundukan dan ketaatan penuh kepada Sang Pencipta.

Cholil menekankan bahwa tipe ketiga inilah yang akan membawa pulang haji yang mabrur, sebuah predikat tertinggi bagi seorang Muslim yang menunaikan ibadah haji.

Di penghujung pesannya, Cholil menyampaikan doa dan harapan besar kepada seluruh jemaah haji Indonesia tahun ini. Ia berharap mereka bisa meneladani perjalanan para ulama terdahulu yang menjadikan ibadah haji sebagai titik balik perubahan diri sekaligus tonggak peradaban.

“Seperti pada para ulama terdahulu, berangkat haji itu pulangnya bisa bikin perubahan terhadap diri sendiri, bahkan bisa membangun peradaban,” ujarnya. Cholil mengingatkan bahwa sebelum kemerdekaan Indonesia, banyak ulama yang pulang dari haji membawa semangat perjuangan yang kemudian menjadi bahan bakar lahirnya bangsa merdeka.