Bahkan soal ibadah wajib seperti shalat di Masjidil Haram pun, Cholil memberikan kelonggaran kepada jemaah yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan. “Jika kondisi fisik tidak memungkinkan, jemaah tidak perlu memaksakan diri setiap waktu shalat harus ke Masjidil Haram. Allah SWT Maha Mengetahui niat baik setiap hamba-Nya,” katanya.

Selain soal stamina, Cholil menyoroti kebiasaan lain yang dinilai bisa merusak kualitas ibadah: penggunaan kamera ponsel untuk kebutuhan pamer atau flexing di media sosial. Ia meminta jemaah berhati-hati dalam merekam aktivitas selama di Tanah Suci, terlebih jika tujuannya untuk mempertontonkan kemewahan atau mencari perhatian publik.

“Jangan sampai kita me-shooting untuk kepentingan flexing atau untuk pamer. Karena itu akan menghilangkan pahala-pahala ibadahnya atau dapat menjauhkan dari kemabruran hajinya karena akan menimbulkan rasa riya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar jemaah tidak merekam hal-hal yang melanggar privasi orang lain atau membuat konten iklan di depan Masjidil Haram, yang termasuk dalam tindakan yang dilarang selama berada di Tanah Suci.

Untuk memperjelas kondisi yang kerap terjadi di lapangan, Cholil membagi jemaah haji ke dalam tiga tipe yang khas. Tipe pertama adalah jemaah yang berangkat haji demi gengsi dan pengakuan sosial. Tipe ini, menurutnya, tidak akan mendapat apresiasi dari Allah SWT karena niatnya yang melenceng sejak awal.