Dari sisi kebijakan, Dedi menyebut sejumlah program yang sudah berjalan. Sekolah negeri jenjang SMA di Jawa Barat kini digratiskan. Sekolah swasta pun sedang dalam proses pembebasan biaya secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan anggaran provinsi. Siswa dari keluarga tidak mampu mendapatkan dukungan berupa seragam, sepatu, tas, hingga biaya transportasi.

Di bidang infrastruktur, Dedi menyebut anggaran pembangunan jalan melonjak drastis. Jika sebelumnya hanya sekitar Rp400 miliar per tahun, kini mendekati Rp4 triliun. Angka itu sepuluh kali lipat dari kondisi sebelumnya—sebuah lompatan yang, jika benar terealisasi, bukan angka kecil untuk ukuran belanja publik daerah.

Soal elektrifikasi, Dedi menyampaikan bahwa ketika ia mulai menjabat, sekitar 600 ribu kepala keluarga di Jawa Barat belum teraliri listrik. Dalam waktu satu setengah tahun, angka itu diklaim turun menjadi sekitar 80 ribu kepala keluarga. Artinya, lebih dari 500 ribu keluarga kini sudah mendapatkan akses listrik yang sebelumnya tidak mereka miliki.

Program pembangunan rumah bagi warga miskin juga disebut terus berjalan, baik melalui anggaran provinsi maupun sinergi dengan kabupaten dan kota. Dedi menyebut totalnya mencapai puluhan ribu unit jika digabungkan, belum termasuk yang ia lakukan secara pribadi.

Layanan kesehatan turut menjadi perhatian. Dedi menegaskan bahwa seluruh warga Jawa Barat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan dijamin oleh pemerintah provinsi. Bukti-buktinya, katanya, bisa dilihat dari tayangan-tayangan yang rutin ia unggah ke media sosial.



Follow Widget