Yang paling mengejutkan adalah soal IPM. Jawa Barat, yang selama bertahun-tahun meringkuk di posisi bawah dalam peringkat nasional, diklaim Dedi mencatatkan kenaikan IPM tertinggi secara nasional pada 2025. “Deltanya tinggi,” ujarnya, merujuk pada laju pertumbuhan IPM yang melampaui provinsi-provinsi lain dalam satu tahun kepemimpinannya.
Dedi juga meluruskan satu hal yang ia anggap sering disalahpahami publik: capaian pembangunan di Jawa Barat bukan semata-mata kinerja gubernur. Ia menyebut keberhasilan itu sebagai kerja kolektif—dari ketua RT, kepala desa, camat, hingga bupati dan wali kota di seluruh penjuru Jawa Barat.
“Karena Jawa Barat gubernurnya kerjanya ngonten aja, gimana berhasil ya Bang,” kata Dedi, menyitir balik sindiran yang kerap ia terima, sembari menegaskan bahwa konten media sosial hanyalah salah satu kanal komunikasi, bukan cermin utuh dari kinerjanya.
Di luar kebijakan struktural, Dedi juga menceritakan apa yang ia lakukan secara personal. Ia mengaku kerap membantu warga yang ditemuinya langsung di lapangan—membangunkan rumah warga yang kondisinya tidak layak huni, membelikan sepeda untuk anak sekolah yang tidak mampu, hingga memberikan kambing kepada petani yang membutuhkan modal ternak.
“Memang secara pribadi saya sebagai warga biasa setiap hari harus melakukan hal yang positif bagi warga,” tuturnya. Tindakan-tindakan personal itu, menurutnya, adalah bagian dari tanggung jawab moral yang ia emban, terlepas dari jabatan yang ia sandang.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.