“Kami ingin orang tua bertanggung jawab setiap malam, memastikan anak remajanya pulang untuk belajar, bukan nongkrong hingga dini hari,” kata Kapolda. Ia menyebut kelalaian orang tua sebagai salah satu faktor pemicu yang harus segera dibenahi secara kolektif.

Dalam visi yang lebih luas, Kapolda menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat hilir atau represif, tetapi juga menyentuh aspek hulu. Perbaikan regulasi operasional tempat hiburan malam, penguatan ekosistem keamanan lingkungan melalui pemasangan CCTV yang benar-benar berfungsi, serta perbaikan pencahayaan di titik-titik gelap menjadi bagian dari agenda besar ini.

Safari Jumat bersama para tokoh agama juga terus digencarkan sebagai bagian dari pendekatan spiritual dan sosial. Dalam forum-forum tersebut, aparat menyampaikan pesan kepada masyarakat agar mewaspadai pengaruh narkoba, minuman keras, dan keras tertentu sebagai pemicu berbagai tindak kejahatan.

Gubernur Dedi Mulyadi menutup pesannya dengan nada penuh semangat. Ia menegaskan bahwa pembangunan baru terasa bermakna ketika masyarakat hidup dalam suasana damai dan tenteram. Dalam ungkapan Sunda yang ia sampaikan, ketenangan jiwa adalah fondasi dari segala kemajuan. Ia pun meminta seluruh pihak untuk tidak berhenti bergerak — terus berkoordinasi, terus berinovasi, dan terus hadir di tengah masyarakat.

Program Jawara Jabar bukan sekadar operasi keamanan musiman. Ini adalah gerakan bersama — antara negara dan rakyatnya — untuk merebut kembali ruang publik dari ancaman kejahatan, agar Jawa Barat benar-benar bisa menjadi provinsi yang aman, nyaman, dan bermartabat.



Follow Widget