BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Seorang mahasiswa IPB University asal Cianjur nyaris tak percaya ketika Gubernur KDM tiba-tiba menyatakan akan menanggung biaya kuliah lima semester ke depan—langsung di hadapannya, tanpa syarat rumit, tanpa birokrasi panjang.
Momen itu terjadi saat Gubernur KDM melakukan kunjungan ke IPB University, Bogor. Dalam suasana yang jauh dari formal, ia menyapa para mahasiswa satu per satu, menanyakan nama, asal daerah, pekerjaan orang tua, hingga besaran uang sewa kos. Yang membuat suasana semakin haru, ia tak sekadar bertanya—ia langsung bertindak.
Hajiatus Syarif, mahasiswa jurusan Analisis Kimia asal Cianjur, menjadi salah satu penerima pertama. Pemuda bertubuh kurus yang akrab disapa Syarif ini mengaku menyewa kamar kos seharga Rp900 ribu per bulan. Ayahnya, Uyus Salman, bekerja sebagai pemilik bengkel motor kecil di Cikaret, sementara ibunya berdagang di warung kecil di depan bengkel.
Dari bengkel motor itulah keluarga Syarif menghidupi empat anak, tiga di antaranya kuliah di perguruan tinggi berbeda—Universitas Siliwangi dan Universitas Negeri Yogyakarta. Syarif sendiri menyebut orang tuanya sebagai “ekonom paling cerdas” yang pernah ia kenal, karena mampu mengatur keuangan sedemikian rupa hingga tiga anak bisa mengenyam pendidikan tinggi sekaligus.
Keputusan Syarif memilih Analisis Kimia bukan tanpa alasan. Ia mengaku jatuh cinta pada kimia sejak duduk di bangku SMAN 1 Cilaku, ketika seorang guru kimia mengajar dengan cara yang begitu hidup dan menggugah rasa ingin tahu. “Setiap pelajaran terasa menantang, sampai saya langsung tertarik,” tuturnya.
Dalam percakapan yang mengalir santai itu, Gubernur KDM melempar pertanyaan seputar isu pangan nasional. Syarif pun menjawab dengan lugas: tantangan pertanian Indonesia ke depan mencakup perubahan musim akibat El Niño dan pemanasan global yang membuat jadwal tanam tidak menentu, penurunan sumber daya manusia di sektor pertanian, keterbatasan lahan seiring pertumbuhan penduduk, dan merosotnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian.
Ketika ditanya soal peran kimia dalam pertanian, Syarif menyebut kimia organik dan pupuk ramah lingkungan sebagai kunci. Ia menegaskan bahwa pasar ekspor global kini semakin ketat menuntut produk bebas bahan kimia berbahaya—dan Indonesia harus bergerak ke arah itu jika ingin tetap kompetitif.
Penerima beasiswa kedua adalah Lara Sati Putri, mahasiswi asal Tangerang, Banten, yang mengambil program Supervisor Jaminan Mutu Pangan. Ia menjawab pertanyaan tentang limbah makanan dengan runtut: sisa pangan dapat diolah menjadi pupuk alami, ekoenzim, hingga energi biogas. Saat ditanya soal energi murah dan ramah lingkungan, Lara langsung menyebut tenaga surya dan angin.
Lara bahkan melontarkan gagasan yang disambut antusias: bagaimana jika atap rumah warga miskin dirancang sekaligus sebagai panel surya, sehingga mereka tak perlu lagi membayar listrik? Gubernur KDM merespons positif, menyebut ide itu layak dikembangkan dalam program perumahan rakyat ke depan.
Kos Lara lebih murah, Rp850 ribu per bulan, berjarak sekitar lima menit jalan kaki dari kampus. Ia anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai karyawan perusahaan di Tangerang, ibunya ibu rumah tangga. Untuk lima semester ke depan, biaya kuliahnya—tujuh juta per semester—akan ditanggung penuh.
Mahasiswi ketiga yang mendapat giliran adalah Ranti, mahasiswi Manajemen Agribisnis asal Subang, perbatasan Karawang. Ayahnya petani, ibunya ibu rumah tangga. Ketika ditanya tentang cara meningkatkan pendapatan petani Indonesia, Ranti menguraikan tiga langkah: membuat pupuk sendiri, menciptakan bahan bakar alternatif dari tebu, dan beralih dari menjual gabah basah ke beras kemasan organik yang bisa masuk minimarket dan supermarket.
Gubernur KDM langsung menjadikan jawaban itu sebagai “tugas kuliah” bagi Ranti: ubah cara bertani orang tuanya dari pertanian konvensional yang bergantung pada pestisida dan penjualan gabah basah, menjadi pertanian organik dengan produk beras kemasan bermerek. “Itu tugas nyata kamu sepulang dari sini,” tegasnya.
UKT Ranti hanya Rp2,5 juta per semester—jauh di bawah rata-rata. Dengan semangat yang sama, Gubernur KDM memutuskan menanggung enam semester biaya kuliahnya, satu semester lebih banyak dari mahasiswa lain, sebagai apresiasi atas potensi yang ia lihat.
Seluruh proses pencairan dijanjikan langsung ditransfer ke rekening IPB University, tanpa perlu melalui tangan perantara. Para mahasiswa diminta menyerahkan kartu tanda mahasiswa sebagai syarat administrasi.
Dalam satu kunjungan yang tampak spontan itu, Gubernur KDM menanggung biaya kuliah sepuluh mahasiswa IPB sekaligus—melampaui kuota awal yang hanya tujuh orang. Ia menegaskan bahwa perut boleh kosong, asal otak terus penuh semangat. Pesan itu mengena: kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi, selama ada yang mau hadir dan mengulurkan tangan.
FAQ
Apa yang dilakukan Gubernur KDM untuk mahasiswa IPB dalam kunjungan ini?
Gubernur KDM menanggung biaya kuliah (UKT) selama lima hingga enam semester bagi sepuluh mahasiswa IPB University yang berasal dari keluarga kurang mampu, dengan pembayaran langsung ditransfer ke pihak kampus.
Siapa saja mahasiswa yang mendapatkan bantuan UKT dari Gubernur KDM?
Di antaranya Hajiatus Syarif (Analisis Kimia, asal Cianjur), Lara Sati Putri (Supervisor Jaminan Mutu Pangan, asal Tangerang), dan Ranti (Manajemen Agribisnis, asal Subang), bersama tujuh mahasiswa lainnya yang hadir dalam kunjungan tersebut.
Bagaimana mekanisme pencairan bantuan UKT yang dijanjikan Gubernur KDM?
Bantuan akan langsung ditransfer ke rekening IPB University setelah mahasiswa menyerahkan kartu tanda mahasiswa (KTM) sebagai syarat administrasi, tanpa perantara.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.