Masalah peternak bukan sekadar soal tidak punya sapi. Masalahnya adalah apakah sapi itu bisa menghasilkan susu yang cukup dengan biaya yang masuk akal. Kalau pakan mahal, produksi tinggi belum tentu membuat peternak untung. Kalau susu sudah diproduksi tetapi tidak terserap pasar, peternak juga merugi. Kalau harga ditentukan sepenuhnya oleh pembeli sementara peternak hanya punya satu atau dua pilihan pasar, posisi tawarnya menjadi lemah.
Persoalan harga ini bukan perkara kecil. Di Kota Batu, misalnya, harga susu segar di tingkat peternak pada 2026 sempat naik dari Rp7.600 menjadi Rp8.000 per liter setelah ada tambahan insentif dari industri pengolahan susu. Sekitar 90 persen produksi susu dari Dusun Brau diserap oleh satu perusahaan besar, sementara sisanya diolah sendiri oleh koperasi menjadi keju dan susu pasteurisasi. Kasus ini menunjukkan bahwa hubungan antara peternak, koperasi, dan industri pengolahan bisa menjadi sumber pasar yang penting — sekaligus menunjukkan betapa rentannya posisi peternak ketika bergantung pada satu jalur penyerapan.
Susu segar berbeda dengan komoditas lain. Ia tidak bisa disimpan berbulan-bulan seperti beras atau jagung. Susu harus segera ditangani dan disalurkan. Sapinya tetap harus diperah setiap hari. Pakan tetap harus dibeli. Karyawan tetap harus dibayar. Listrik tetap berjalan. Itulah sebabnya kepastian pasar dan stabilitas harga menjadi sama pentingnya — bahkan bisa jadi lebih penting — daripada sekadar penambahan populasi sapi.
Di sinilah masyarakat perlu ikut memperhatikan. Jangan sampai kita hanya melihat angka Rp2,2 triliun dan langsung merasa peternakan Indonesia sedang dibangun besar-besaran. Kita juga perlu melihat siapa yang menerima manfaatnya. Berapa koperasi yang mendapatkan akses? Berapa peternak kecil yang naik populasi? Berapa banyak susu lokal yang benar-benar diserap industri? Apakah biaya pakan menjadi lebih terjangkau? Apakah harga di tingkat peternak menjadi lebih stabil?
Ketahanan pangan tidak cukup diukur dari berapa banyak sapi yang berhasil didatangkan atau berapa besar pabrik yang berhasil dibangun. Kalau peternak kecil yang selama ini menjadi fondasi produksi justru makin banyak yang berhenti, kita mungkin punya peternakan modern yang megah — tetapi kehilangan orang-orang yang selama puluhan tahun menjaga sektor ini tetap hidup.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.