Ketika pemerintah sebelumnya mendorong impor sapi perah untuk meningkatkan produksi susu nasional, persoalan akses justru kembali mencuat dari sisi peternak kecil. Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia menyebut koperasi dan peternak rakyat kesulitan mendapatkan pembiayaan KUR untuk mengikuti program impor sapi perah tersebut. Sapi impor yang masuk justru lebih banyak berasal dari pembiayaan pengusaha dan peternakan besar.

Pola seperti ini yang perlu diperhatikan. Di satu sisi pemerintah ingin menambah populasi sapi supaya produksi susu dalam negeri meningkat. Di sisi lain, orang yang selama ini bekerja sebagai peternak justru kesulitan mendapatkan modal untuk ikut ambil bagian. Kalau celah ini tidak segera dibenahi, pembangunan peternakan modern berisiko menciptakan jarak baru antara pelaku besar dan peternak kecil.

Yang punya modal bisa bergerak lebih cepat. Yang sudah memiliki lahan dan teknologi bisa memperbesar populasi. Yang punya akses ke perbankan dan industri bisa mendapatkan pembiayaan lebih mudah. Sementara peternak kecil tetap bertahan di skala yang sama, bahkan makin sulit mengejar.

Satu hal yang perlu diingat: peternakan rakyat bukan baru. Mereka sudah ada jauh sebelum pemerintah berbicara tentang ekosistem peternakan terintegrasi. Koperasi susu juga sudah bertahun-tahun mengumpulkan susu dari peternak, mengurus kualitas, menyalurkan ke industri, dan menjadi penghubung antara peternak kecil dengan pasar yang jauh lebih besar. Sekitar 70 persen produksi susu nasional pernah disebut berasal dari koperasi peternak sapi perah. Artinya, koperasi dan peternak rakyat sebenarnya berada di posisi kunci dalam rantai pasok susu Indonesia.

Kalau sekarang pemerintah ingin membangun ekosistem baru, akan jauh lebih kuat apabila koperasi yang sudah bertahun-tahun berdiri juga menjadi bagian penting dari pembangunan tersebut — bukan sekadar pemasok. Didukung untuk naik kelas. Misalnya melalui pembiayaan yang sesuai karakter peternakan rakyat, akses bibit yang lebih baik dan terjangkau, pakan dengan harga masuk akal, teknologi pemerahan, fasilitas pendinginan, pengolahan susu, hingga akses pasar yang lebih kuat.



Follow Widget