Artinya, ketika rupiah melemah, tidak semua lapisan masyarakat merasakan dampaknya secara langsung dan setara. Petani di pelosok Sulawesi atau pedagang kecil di pasar tradisional Jawa tengah jauh dari tekanan kurs yang biasanya lebih terasa di lantai bursa atau ruang rapat importir.

Meski demikian, Surya tidak menutup mata bahwa pelemahan rupiah tetap membawa risiko tidak langsung yang perlu diantisipasi. Kenaikan harga bahan bakar minyak, misalnya, bisa menjadi jalur transmisi yang paling cepat dirasakan masyarakat kecil, termasuk warga desa.

Pemerintah, menurut Surya, telah mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat subsidi BBM. Kebijakan itu dirancang untuk membentengi daya beli masyarakat dari guncangan harga energi yang lazimnya mengikuti pergerakan kurs dan harga minyak global.

“Pemerintah telah melakukan langkah antisipasi strategis dengan meningkatkan subsidi agar kenaikan harga BBM bisa diredam, sehingga masyarakat Indonesia bisa tetap menikmati harga BBM seperti sedia kala,” pungkas Surya.

Gambaran yang disampaikan Surya memberi perspektif yang lebih utuh di tengah derasnya sorotan terhadap nilai tukar rupiah belakangan ini. Angka kurs memang mudah dibaca dan cepat viral, tetapi ia hanyalah salah satu jendela dari bangunan ekonomi yang jauh lebih kompleks.