Tren tersebut, menurut Surya, membantah asumsi bahwa penguatan dolar otomatis menggerus kinerja ekonomi Indonesia. Angka pertumbuhan yang stabil di kisaran lima persen justru mencerminkan ketahanan fundamental yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

“Fakta ini menunjukkan bahwa kenaikan dolar Amerika Serikat tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut rakyat di desa tidak memakai dolar turut mendapat porsi ulasan dari Surya. Bagi sebagian kalangan, pernyataan itu dianggap kontroversial. Namun Surya melihatnya sebagai refleksi fakta yang memang terjadi di lapangan.

Transaksi berbasis dolar, lanjut Surya, pada praktiknya lebih banyak berputar di kalangan pelaku usaha yang bergerak di sektor ekspor dan impor. Segmen ini mayoritas terkonsentrasi di kawasan perkotaan, bukan di desa-desa yang mengandalkan ekonomi lokal dan transaksi harian dalam rupiah.

“Kegiatan ekspor-impor dan investasi valuta asing ini tentunya lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang hidup di daerah perkotaan dibandingkan masyarakat pedesaan,” terangnya.