MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Bukan kurs dolar yang menentukan segalanya. Di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang terus menjadi sorotan, seorang pengamat ekonomi mengingatkan bahwa membaca kesehatan ekonomi suatu negara tidak bisa hanya berpaku pada satu angka di papan money changer.

Dr. Surya Vandiantara, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu, menegaskan bahwa fluktuasi nilai mata uang hanyalah satu dari sekian banyak indikator yang perlu dicermati. Ia menyebut pertumbuhan Produk Domestik Bruto, Neraca Transaksi Berjalan, Cadangan Devisa, dan kondisi fiskal sebagai variabel yang tak kalah penting untuk dibaca secara bersamaan.

Penilaian yang terlalu bertumpu pada pergerakan kurs, menurut Surya, rawan melahirkan kesimpulan yang keliru. Analisis sepotong-sepotong semacam itu justru bisa menyesatkan publik dalam memahami kondisi riil perekonomian nasional.

“Narasi yang berupaya mendiskreditkan perekonomian Indonesia dengan hanya menggunakan satu indikator seperti nilai tukar dolar Amerika Serikat merupakan narasi yang tidak komprehensif,” kata Surya.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Surya merujuk data Badan Pusat Statistik yang mencatat tren pertumbuhan ekonomi Indonesia secara konsisten positif dalam tiga kuartal terakhir. Pertumbuhan mencapai 5,04 persen pada triwulan III 2025, kemudian naik ke 5,39 persen pada triwulan IV 2025, dan kembali menguat ke angka 5,61 persen pada triwulan I 2026.