JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah serius menyusul sejumlah insiden keracunan yang mencoreng program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para guru kini resmi dilibatkan sebagai garda terdepan pengawasan keamanan pangan di sekolah — sebelum makanan itu bahkan menyentuh mulut seorang siswa.
Kepala BGN menegaskan hal ini dalam sebuah webinar nasional yang menjadi penanda dimulainya program pelibatan guru secara masif. Bukan sekadar imbauan, ini adalah instruksi resmi yang menyentuh 658.300 guru di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten sebagai tahap awal — dan akan terus diperluas hingga menjangkau 3,5 juta guru di seluruh Indonesia.
Pesan yang disampaikan BGN gamblang: sebelum makanan dibagikan kepada siswa, guru wajib memeriksa kondisi setiap komponen menu MBG. Nasi, lauk, sayur, hingga buah — semuanya harus dicek. Jika ada yang berbau, terlihat tidak segar, atau dianggap tidak layak konsumsi, seluruh menu harus dikembalikan ke dapur SPPG tanpa terkecuali.
BGN menekankan prinsip “semua atau tidak sama sekali”. Artinya, jika satu komponen saja dinyatakan tidak layak, maka satu porsi penuh itu tidak boleh dimakan — bukan hanya bagian yang bermasalah. Keputusan ini diambil untuk melindungi keselamatan jiwa, baik guru maupun siswa yang menjadi penerima manfaat program.
Kasus yang terjadi di Kalimantan Barat menjadi salah satu rujukan langsung dalam arahan ini. Insiden tersebut memperjelas bahwa pengawasan di titik distribusi — yakni di sekolah — adalah lapisan perlindungan yang tidak bisa diabaikan. BGN menyebutnya sebagai bagian dari fungsi pendidikan, bukan beban tambahan bagi tenaga pengajar.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.