Angka ini mungkin terlihat kecil, tetapi maknanya signifikan. Ia menjadi indikator bahwa pelaku usaha, khususnya ritel, mulai memandang isu sisa pangan sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata urusan pemerintah atau organisasi sosial.

Nita menilai, kolaborasi yang lebih luas antara ritel, bank pangan, dan organisasi penyelamatan pangan berpotensi memperbesar manfaat redistribusi bagi masyarakat luas. Semakin banyak titik kolaborasi, semakin besar pula jangkauan pangan yang bisa diselamatkan dan disalurkan.

Untuk memperkuat capaian ini, Bapanas turut menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) agar mendorong anggotanya lebih aktif dalam berbagai program penyelamatan pangan.

“Kontribusi sektor ritel yang semakin luas akan memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan,” kata Nita.

Ajakan ini mendapat respons positif dari kalangan pelaku usaha ritel. Direktur Eksekutif APRINDO, Dasep Suryanto, menilai pengurangan sisa pangan semestinya bukan sekadar program sampingan, melainkan bagian dari strategi bisnis yang dijalankan secara konsisten dan terukur.



Follow Widget