Ketika pendapatan negara tidak mampu mengejar belanja, satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menagih lebih agresif kepada siapa pun yang bisa ditagih. Rakyatlah yang kemudian menanggung bebannya.
Defisit Kedua: Ekspor Kalah dari Impor
Indonesia, negara yang selama puluhan tahun membanggakan kekayaan sumber daya alamnya, kini berada dalam posisi yang memalukan secara neraca dagang. Ekspor tercatat hanya 23,2 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 24,8 miliar dolar AS.
Defisit neraca perdagangan ini bukan semata soal angka. Ini cerminan dari ketergantungan yang belum juga diatasi secara serius, terutama impor minyak. Setiap kali harga minyak dunia bergejolak naik, APBN langsung megap-megap.
Sementara itu, hilirisasi yang dijanjikan selama bertahun-tahun masih berjalan lambat dan, menurut banyak kritikus, lebih banyak menguntungkan segelintir kelompok besar ketimbang memperkuat industri nasional secara luas. UKM dan pelaku usaha kecil nyaris tidak merasakan dampaknya.
Defisit Ketiga: Modal Kabur dari Indonesia
Ini yang paling berbahaya. Neraca pembayaran, khususnya dari arus modal dan finansial, mencatat defisit fantastis: 493 juta dolar AS. Artinya, lebih banyak uang dan modal yang keluar dari Indonesia dibanding yang masuk.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.