Untuk memperkuat argumentasinya, Dante membawa data perbandingan angka harapan hidup. Indonesia, dengan segala kemajuan yang telah dicapai, masih berada di angka sekitar 71 tahun — jauh di bawah Singapura (83 tahun), Jepang (84 tahun), dan Hong Kong (85 tahun).

Kesenjangan itu bukan hal yang bisa dianggap sepele. Selisih lebih dari satu dekade dengan negara-negara tetangga mencerminkan betapa jauhnya jarak yang harus ditempuh Indonesia dalam urusan kualitas hidup dan kesehatan masyarakatnya.

Dante menegaskan bahwa angka harapan hidup yang rendah bukan takdir, melainkan cerminan dari sistem dan kebiasaan yang belum tepat. Dan perubahan itu, kata dia, harus dimulai jauh sebelum seseorang jatuh sakit.

Inilah yang mendorong Kementerian Kesehatan untuk mendorong perubahan paradigma besar dalam sistem kesehatan nasional: dari pendekatan kuratif — mengobati setelah sakit — menuju pendekatan preventif dan promotif — menjaga agar tidak pernah sakit.

Pergeseran paradigma ini bukan sekadar slogan kebijakan. Dante menginginkan langkah nyata yang dirasakan langsung di tingkat keluarga dan sekolah, terutama di jenjang sekolah dasar dan menengah pertama — masa krusial pembentukan kebiasaan hidup anak.