JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Pemerintah memutuskan memangkas daftar penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mencoret 1.653 satuan pendidikan sekaligus—sebuah keputusan yang mengundang tanya: selama ini, apakah meja makan anak-anak orang kaya juga disubsidi negara?

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengumumkan langkah refocusing ini melalui siaran pers resmi pada Kamis, 10 September 2026. Keputusan besar itu bukan tanpa alasan—pemerintah ingin memastikan setiap rupiah anggaran negara benar-benar mendarat di piring anak-anak yang paling membutuhkan, bukan di kantin sekolah internasional yang sudah dilengkapi kafe bergaya.

Refocusing ini bukan sekadar perampingan administratif. Ini adalah pengakuan terbuka bahwa program MBG—salah satu janji besar pemerintahan saat ini—sempat berjalan kurang presisi di lapangan. Sejumlah sekolah yang seharusnya bukan prioritas ikut menikmati anggaran yang sesungguhnya dirancang untuk mereka yang kekurangan.

BGN menetapkan tiga kriteria utama sekolah yang dicoret dari daftar penerima manfaat. Pertama, sekolah swasta bertaraf internasional. Kedua, sekolah elite yang memiliki kerja sama dengan institusi global maupun nasional. Ketiga, sekolah yang dinilai sudah mandiri secara finansial dan tidak bergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dengan kata lain, jika sekolah Anda memiliki lapangan tenis indoor, kolam renang olimpik, dan menu kantin empat bahasa—kemungkinan besar nama Anda sudah dicoret dari daftar BGN. Sudaryono menegaskan bahwa murid-murid di sekolah semacam itu dinilai sudah mendapatkan pemenuhan gizi yang baik, baik dari rumah maupun dari fasilitas internal sekolah mereka sendiri.



Follow Widget