JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Delapan nyawa dalam satu kapal, hilang di perairan salah satu gunung berapi paling berbahaya di dunia — dan tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi.
Itulah gambaran situasi yang memaksa Presiden Prabowo Subianto turun tangan langsung, menginstruksikan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut untuk segera menggelar operasi pencarian terhadap rombongan jurnalis yang hilang kontak saat meliput letusan Gunung Anak Krakatau. Lima wartawan dan tiga kru kapal lenyap begitu saja dari radar komunikasi, menyisakan kekhawatiran yang kian menggulung sejak Senin malam.
Perintah Presiden datang tanpa jeda. Begitu laporan hilang kontak masuk ke telinga Kepala Negara, instruksi langsung meluncur ke Kepala Staf Angkatan Laut — kerahkan kekuatan, temukan mereka. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membenarkan hal itu dalam keterangan tertulisnya kepada awak media.
Teddy menegaskan bahwa perintah pencarian sudah diberikan Presiden Prabowo sejak Senin malam, di hari yang sama ketika rombongan itu dilaporkan tak bisa dihubungi. Tak ada waktu yang terbuang — kapal-kapal TNI AL langsung dilepas ke laut malam itu juga.
Lima jurnalis itu bukan sekadar pekerja biasa yang sedang menjalankan tugas rutin. Mereka adalah ujung mata pena bangsa yang memilih terjun ke kawasan berbahaya demi satu tujuan: mengabadikan dan menyampaikan fakta kepada publik. Gunung Anak Krakatau, anak kandung dari Krakatau yang legendaris, bukan destinasi wisata. Ia adalah zona waspada, penuh abu dan asap, dengan gelombang laut yang bisa berubah karakter kapan saja.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.