“Kalau untuk Sulawesi Selatan sendiri ada wilayah-wilayah yang sudah memasuki musim hujan yang kapasitasnya dari mulai menengah hingga tinggi. Tapi tidak sangat tinggi ya, menengah dan tinggi,” kata Nasrul, hati-hati memilih kata.

Kalimat itu terdengar melegakan sebagian orang. Tapi angka-angka di baliknya tidak semenyenangkan itu. Wilayah yang normalnya menerima 50 milimeter curah hujan per periode kini hanya akan mendapat sekitar 30 milimeter. Yang biasa dapat 30 milimeter? Bisa turun ke bawah 20 milimeter. Selisihnya tampak kecil di atas kertas, tetapi bagi petani yang mengandalkan air hujan untuk mengairi lahannya, atau bagi bendungan yang membutuhkan debit sungai yang cukup untuk terisi kembali, angka itu sangat berarti.

Nasrul menegaskan, El Niño yang disebut-sebut masih akan membayangi hingga 2027 bukan berarti Sulsel akan terpanggang kering sepanjang dua tahun. Fenomena ini bekerja lebih halus — bukan memutus hujan, tapi menguranginya. Bukan menciptakan gurun, tapi menipiskan cadangan.

“Artinya periode sampai dengan melintas tahun 2027 itu bukan berarti kekeringan sepanjang tahun itu, bukan. Tetapi ada kontribusi pengurangan jumlah curah hujan di lokasi-lokasi tertentu,” tegasnya.

Satu kabar yang sedikit melegakan datang dari proyeksi jangka pendek BMKG. Memasuki Januari 2027, curah hujan di sebagian besar wilayah Sulsel diperkirakan akan melonjak melampaui 100 milimeter. Jika benar terjadi, itu bisa menjadi penyelamat bagi Bilibili — debit Jeneberang akan pulih, dan air akan kembali memenuhi waduk yang kini tampak lelah itu.



Follow Widget