Lebih jauh lagi, BGN sedang mempertimbangkan integrasi kamera CCTV ke dalam sistem pengawasan tersebut. Jika terwujud, orang tua dan pihak sekolah bisa memantau langsung kondisi dapur yang memasak makanan untuk anak-anak mereka. Sebuah transparansi yang selama ini absen dalam program makan siang pemerintah.

Filosofi yang diusung Sudaryono sederhana namun tegas: trust is good, but control is better. Kepercayaan kepada pengelola dapur memang perlu, namun tanpa sistem kontrol yang kuat, kepercayaan itu rentan disalahgunakan—baik melalui kelalaian higienis maupun penyelewengan dana.

Program MBG yang digulirkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memang menjangkau jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia. Namun skala besar ini juga membawa risiko besar: satu dapur yang tidak higienis bisa menjadi sumber bencana kesehatan massal. Itulah mengapa BGN memilih pendekatan tanpa kompromi—zero tolerance terhadap keracunan, sekaligus zero tolerance terhadap korupsi dalam bentuk apapun.

Kasus SMK Negeri 6 Semarang menjadi pengingat keras bahwa program sebesar ini tidak boleh berjalan tanpa pengawasan ketat. Ketika negara hadir untuk memberi makan anak-anak bangsa, tanggung jawabnya bukan sekadar memastikan piring terisi—tetapi juga memastikan makanan di piring itu aman, bergizi, dan bebas dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Sudaryono tampaknya memahami benar bobot tanggung jawab itu. Dan 137 pemecatan hanyalah awal dari pembenahan besar yang sedang ia jalankan.



Follow Widget