JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Satu insiden keracunan sudah terlalu banyak. Itulah pesan tegas yang disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono saat mengumumkan pemecatan 137 kepala dapur atau kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Langkah keras ini diambil sebagai respons atas serangkaian kasus keracunan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak bisa ditoleransi lebih lama.
Pengumuman itu disampaikan Sudaryono tak lama setelah ia kembali dari Semarang, tempat terjadinya insiden keracunan di SMK Negeri 6 Semarang. Kasus tersebut langsung ia tetapkan sebagai fatal incident—sebuah status serius yang memicu rangkaian sanksi dan investigasi menyeluruh.
“Ini menyangkut nyawa, menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak kita, ibu hamil dan menyusui, serta balita kita,” ujar Sudaryono dengan nada tegas.
Dari total 137 kepala dapur yang dicopot, Jawa Barat mencatat angka tertinggi dengan 49 pemecatan. Disusul Lampung dengan 26 kasus, Jawa Timur 11, Sumatera Utara 10, Banten 10, dan Jawa Tengah 5. Lima dari mereka adalah kepala dapur yang dapurnya terlibat langsung dalam kasus keracunan, termasuk dapur yang memasok makanan ke SMK Negeri 6 Semarang.
Pemecatan tidak hanya disebabkan oleh kasus keracunan. Sebagian kepala dapur dicopot karena tindakan indisipliner lainnya, termasuk praktik phishing—modus penipuan di mana seseorang yang berwenang mencairkan dana justru mengaku telah ditipu sehingga uang program raib entah ke mana. BGN menilai praktik semacam ini sebagai bentuk korupsi yang tak kalah berbahaya dari keracunan pangan itu sendiri.




















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.