Pertanyaan-pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab dalam tahap uji coba ini. BGN tampaknya memilih untuk berjalan sambil belajar—mengevaluasi pelaksanaan di lapangan sebelum memperluas skema ke lebih banyak daerah.
Yang jelas, arah perubahan ini cukup tegas. BGN tidak ingin program MBG berhenti di angka kalori dan kandungan gizi semata. Ada ambisi yang lebih besar: menjadikan jam makan siang sebagai ruang pendidikan karakter yang hidup setiap hari.
Jika uji coba ini berjalan lancar, bukan tidak mungkin sistem prasmanan ala Jepang ini akan menjadi standar nasional baru dalam distribusi Makan Bergizi Gratis di seluruh sekolah Indonesia. Sebuah perubahan kecil dalam cara makanan disajikan, yang bisa berdampak jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.