Konflik antara keamanan domestik dan tanggung jawab internasional ini bukan hal baru bagi Yordania. Negeri Hasyimiyah itu selama bertahun-tahun menjadi salah satu negara paling stabil di Timur Tengah meski dikelilingi oleh tetangga-tetangga yang bergolak. Menjaga keseimbangan itu selalu memerlukan keputusan-keputusan yang tidak pernah mudah.
Penutupan perlintasan Nassib menjadi sinyal bahwa Suriah tidak akan membiarkan insiden ini berlalu begitu saja. Jalur perdagangan yang tertutup itu bisa menjadi alat tekanan Damaskus terhadap Amman, sekaligus pesan bahwa tindakan militer sepihak, apapun klaimnya tentang koordinasi, tidak akan diterima begitu saja.
Seberapa jauh eskalasi ini akan berlanjut masih menjadi pertanyaan terbuka. Yordania perlu mengelola tekanan domestik, mempertahankan citranya sebagai aktor yang bertanggung jawab di mata komunitas internasional, sekaligus menghadapi ancaman nyata dari kelompok bersenjata di perbatasannya. Suriah, di sisi lain, memiliki kepentingan untuk menegaskan kedaulatannya di atas wilayahnya sendiri.
Yang pasti, tujuh orang telah meninggal dunia. Di antara mereka ada anak-anak yang tidak memiliki kaitan apapun dengan aksi terorisme maupun dinamika geopolitik yang tengah bermain. Suara tembakan di gereja Karak dan ledakan serangan udara di Suriah selatan telah meninggalkan luka yang tidak akan mudah sembuh di kedua sisi perbatasan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.