Pendekatan holistik semacam ini mencerminkan perubahan paradigma dalam kebijakan sosial Indonesia. Jika dulu bantuan sosial cenderung bersifat konsumtif — memberikan uang atau barang tanpa membangun kapasitas — Sekolah Rakyat mencoba membangun fondasi yang lebih permanen.

Dampaknya sudah mulai terasa meski program ini baru berjalan. Agus mengisahkan bagaimana anak-anak yang sebelumnya minder dan tidak berani berbicara di depan umum, kini mulai tumbuh kepercayaan dirinya. Mereka mulai berani bermimpi — sesuatu yang sebelumnya terasa mewah bagi mereka.

“Yang tadinya tidak percaya diri, sekarang mulai berani bicara di depan umum, mulai punya cita-cita. Itu yang paling penting,” tutup Agus.

Di balik angka dan target program, ada sesuatu yang lebih berharga yang sedang dibangun: harapan. Dan bagi anak-anak yang selama ini tumbuh tanpa cita-cita, harapan adalah modal paling besar yang bisa diberikan negara.