“Tujuan Sekolah Rakyat itu dimaksudkan Presiden untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Kalau keluarganya miskin, anaknya kita ambil, negara sekolahkan,” ujar Agus.

Konsep yang diusung adalah boarding school atau sekolah berasrama. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Bagi banyak anak dari keluarga miskin, pulang ke rumah berarti kembali ke lingkungan dengan sanitasi buruk, asupan gizi yang tidak tercukupi, dan suasana yang jauh dari kondusif untuk belajar.

“Kalau sekolah reguler, setelah pulang mereka kembali ke lingkungan yang sanitasinya kurang baik, gizinya kurang, dan itu mempengaruhi perkembangan anak. Karena itu dibuat boarding supaya anak-anak ini benar-benar mendapatkan perhatian penuh,” jelas Agus.

Dengan sistem asrama, negara mengambil alih tanggung jawab atas seluruh aspek kehidupan sehari-hari siswa. Pendidikan, karakter, gizi, dan lingkungan — semuanya dikelola dalam satu ekosistem yang terkontrol.

Fasilitas yang diterima siswa pun jauh dari kesan seadanya. Seragam, tempat tinggal, tiga kali makan sehari, laptop, hingga perlengkapan sekolah — semuanya disediakan secara gratis oleh negara. Presiden Prabowo menegaskan bahwa anak-anak dari keluarga miskin berhak mendapatkan fasilitas terbaik, bukan fasilitas yang sekadar layak.