Hingga kini, 166 titik Sekolah Rakyat telah beroperasi di berbagai penjuru Indonesia. Pencapaian ini bahkan melampaui target awal yang ditetapkan Presiden, yakni 100 sekolah pada tahun pertama program berjalan.
Untuk sementara, pemerintah memanfaatkan berbagai aset negara yang sudah tersedia: sentra dan balai milik Kementerian Sosial, gedung kementerian lain, serta aset pemerintah daerah. Fasilitas-fasilitas itu digunakan sambil menunggu pembangunan gedung sekolah permanen yang sedang dipersiapkan.
Yang membedakan Sekolah Rakyat dari program pendidikan lainnya bukan hanya soal fasilitas, melainkan pendekatannya yang menyeluruh. Pemerintah tidak hanya merawat anak-anak di dalam asrama — mereka juga menyiapkan program pemberdayaan bagi orang tua siswa yang ditinggalkan di rumah.
Kementerian Sosial bersama kementerian dan lembaga terkait akan memberikan pelatihan keterampilan kerja, bantuan usaha kecil, hingga perbaikan rumah tidak layak huni. Tidak ada satu sisi pun dari lingkaran kemiskinan yang dibiarkan tak tersentuh.
“Anaknya disekolahkan, orang tuanya diberdayakan, rumahnya diperbaiki. Jadi penanganannya menyeluruh,” kata Agus.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.