BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tidak bergeming menghadapi gelombang kritik atas sayembara tangkap begal yang ia gagas. Pria yang akrab disapa KDM itu justru balik berterima kasih kepada semua pihak yang melayangkan keberatan, sambil membeberkan argumentasi di balik kebijakan kontroversial tersebut.
Dalam keterangannya pada Sabtu, 25 Juli 2025, KDM menyatakan apresiasi kepada seluruh pengkritik program itu. Ia menyebut masukan tersebut sebagai bentuk otokritik yang konstruktif, bukan serangan yang harus dibalas.
Dua kekhawatiran utama publik langsung ia akui: potensi aksi main hakim sendiri oleh warga dan kemungkinan munculnya “drama begal”—skenario di mana seseorang pura-pura menjadi pelaku kejahatan demi mengantongi hadiah sayembara. Bagi KDM, dua kekhawatiran itu sah, tapi justru menjadi alasan kuat mengapa program ini perlu ada.
KDM juga secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Menteri Koordinator Bidang Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, yang sebelumnya turut menanggapi program tersebut. Ia menegaskan akan menyampaikan dasar argumentatif yang jelas kepada sang profesor hukum ternama itu.
Inti dari argumentasi KDM sederhana namun tajam: sayembara ini bukan mengundang kekerasan, melainkan mencegahnya. Selama bertahun-tahun, ia menyaksikan sendiri bagaimana pelaku pencurian yang tertangkap warga berakhir dihakimi massa hingga tewas—bukan diadili oleh hukum.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.