Asap ternyata jauh lebih mahir menjalankan integrasi kawasan daripada birokrasi mana pun. Ia tidak butuh paspor, tidak melapor di pos perbatasan, dan tidak berhenti ketika menemukan garis imajiner di peta. Begitu angin mendukung, asap dari Kalimantan bisa langsung ikut menentukan apakah anak-anak di Serian masih boleh berangkat sekolah atau tidak.
Situasi di Sarawak pun tidak berhenti pada 12 Agustus. Pada 20 Agustus, penutupan sekolah diperluas ke sejumlah wilayah pendidikan lain di Sarawak ketika kualitas udara kembali memburuk. Ratusan sekolah terdampak dalam gelombang berikutnya. Penutupan di Serian ternyata hanya babak pertama dari persoalan yang lebih panjang.
Sementara itu, respons di sisi Indonesia jauh lebih beragam. Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, solusi awalnya adalah menggeser jam masuk sekolah ke pukul 09.00 WITA. Logikanya mungkin: asap pagi lebih pekat, asap siang lebih bersahabat. Sayangnya, partikel halus di udara tidak membaca surat edaran dinas pendidikan dan tidak otomatis menghilang begitu jarum jam bergerak.
Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kebijakan dibedakan berdasarkan jenjang. PAUD dialihkan ke pembelajaran jarak jauh lebih dahulu. Sementara siswa SD dan SMP masih mengikuti tatap muka dengan jam masuk diundur, kegiatan luar ruangan dihentikan, dan penggunaan masker diperketat. Ketika kondisi memburuk, sekolah diberi ruang untuk memperpendek durasi belajar atau beralih ke rumah.
Kotawaringin Timur akhirnya mengambil langkah paling tegas di antara daerah-daerah itu. Pada 20 Agustus, pemerintah daerah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka sepenuhnya karena kondisi kabut asap dianggap tidak aman. Ini membuktikan bahwa ada pemerintah daerah Indonesia yang juga mampu bergerak cepat ketika situasi menuntutnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.