Karena itu, persoalannya bukan sesederhana Malaysia menutup sekolah sementara Indonesia memaksa siswa tetap masuk. Respons Indonesia memang berbeda-beda bergantung daerah dan keparahan asap. Justru perbedaan itulah yang layak dipertanyakan: mengapa satu ancaman kesehatan yang sama bisa menghasilkan standar perlindungan yang begitu beragam dari satu kabupaten ke kabupaten lain?
Indonesia sebenarnya sudah memiliki Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU sebagai acuan. Berdasarkan aturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ISPU 101–200 masuk kategori tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 masuk kategori berbahaya. Angka-angkanya tersedia. Kategorinya sudah ada. Yang masih longgar adalah penerjemahannya menjadi tindakan perlindungan yang seragam dan dapat diprediksi oleh masyarakat.
Malaysia, melalui National Haze Action Plan, punya ambang yang relatif mudah dipahami publik. Ketika API mencapai level tertentu, sekolah dapat ditutup. Tidak perlu rapat panjang, tidak perlu menunggu arahan berlapis. Di Indonesia, kategorinya tersedia, tetapi tindakan konkret yang mengikutinya masih banyak bergantung pada inisiatif masing-masing kepala daerah.
Skala kebakarannya sendiri seharusnya sudah cukup menjadi alarm. BNPB mencatat hingga 9 Agustus 2026, sekitar 48 ribu hektare lahan terbakar di enam provinsi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan. Kalimantan Barat mencatat luas kebakaran terbesar, disusul Riau dan Kalimantan Tengah. ASMC bahkan sudah menaikkan peringatan kabut asap untuk kawasan selatan ASEAN sejak awal Agustus, jauh sebelum sekolah-sekolah di Sarawak akhirnya ditutup. Tanda-tandanya tersedia. Pertanyaannya adalah seberapa siap sistem respons kita membaca dan menindaklanjutinya.
Alasan mengapa keputusan terkait sekolah tidak seharusnya dianggap sepele sudah lama diperkuat oleh bukti ilmiah. Organisasi Kesehatan Dunia menempatkan anak-anak sebagai kelompok paling rentan terhadap pencemaran udara karena sistem pernapasan mereka masih berkembang. Partikel halus dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama ketika konsentrasinya tinggi dan paparan berlangsung berulang.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.