Hasilnya sudah mulai terlihat. Sepanjang 2025 hingga 2026, Kemendag telah memfasilitasi business matching yang melibatkan sekitar 932 UMKM dengan berbagai peritel modern dan pusat perbelanjaan ternama. Nama-nama besar seperti MAP Group dengan gerai Sogo dan Alun Alun Indonesia, Hero Supermarket, Metro Department Store, AEON Indonesia, IKEA Indonesia, hingga KAI dan KAI Services telah menjadi mitra dalam program ini.
Deretan nama itu menunjukkan bahwa pintu ritel premium pun kini mulai terbuka bagi produk lokal. Bukan hanya minimarket pinggir jalan, tapi juga mal-mal besar di kota-kota utama Indonesia.
Agenda besar berikutnya sudah menanti di ujung bulan ini. Budi mengajak seluruh pelaku UMKM untuk memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang akan berlangsung pada 14 hingga 18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang. TEI adalah salah satu pameran dagang terbesar di Asia Tenggara, dan bagi UMKM, ini adalah kesempatan emas untuk memperkenalkan produk kepada buyer dari mancanegara.
Digitalisasi UMKM memang bukan proyek semalam. Tapi langkah-langkah konkret seperti fasilitasi barcode ini membuktikan bahwa pemerintah serius menutup gap antara potensi besar UMKM Indonesia dan realita akses pasar yang masih terbatas.
“Kami berharap semakin banyak produk UMKM dapat masuk ke jaringan ritel modern dan memperluas akses pasarnya,” ujar Budi menutup pernyataannya.
Dengan lebih dari 64 juta unit UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional, program sertifikasi barcode ini boleh jadi terlihat kecil. Tapi dampaknya bisa sangat nyata: satu barcode bisa membuka pintu yang selama ini tertutup rapat bagi jutaan produk lokal yang sesungguhnya layak bersaing.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.