Komposisi peserta mencerminkan wajah nyata UMKM Indonesia. Sebanyak 94 persen pendaftar bergerak di sektor produk pangan dalam kemasan—mulai dari camilan, minuman, hingga makanan olahan. Sisanya, enam persen, datang dari sektor kecantikan seperti sabun, sampo, dan berbagai produk kosmetik.

Angka ini bukan kebetulan. Produk pangan kemasan dan kecantikan adalah dua segmen yang paling banyak dipajang di rak minimarket dan supermarket. Artinya, peluang UMKM untuk bersanding dengan produk-produk besar merek nasional kini terbuka lebih lebar.

Budi menjelaskan potensi pasar yang menanti. Indonesia kini memiliki lebih dari 50 ribu gerai minimarket, belum termasuk supermarket dan department store yang juga terus berkembang. Jaringan distribusi sebesar ini adalah magnet bagi produk lokal yang siap bersaing.

Namun barcode bukan hanya soal pasar domestik. Identitas unik yang melekat pada barcode diakui secara internasional, membuka jalan bagi UMKM yang bermimpi menembus pasar ekspor. Sebuah kemasan dengan barcode resmi berbicara dalam bahasa yang dipahami rantai ritel di seluruh dunia.

Kementerian Perdagangan tidak berhenti di sertifikasi semata. Budi memastikan pihaknya akan terus menggandeng dua asosiasi besar ritel nasional: Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) serta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO). Kolaborasi ini diwujudkan salah satunya lewat sesi business matching—forum yang mempertemukan UMKM terpilih langsung dengan pengambil keputusan dari jaringan ritel modern.



Follow Widget