Indonesia bukan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tengah memperkuat armada udaranya. Beberapa negara tetangga juga sedang dalam proses modernisasi angkatan udara masing-masing. Dalam konteks itu, penerimaan Rafale menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih sejajar dalam kalkulasi kekuatan udara regional.
Langkah ini juga memberi sinyal kepada mitra strategis Indonesia bahwa negara ini serius dalam membangun postur pertahanan yang mandiri dan tidak bergantung pada satu pemasok senjata saja. Diversifikasi sumber alutsista—dari Amerika Serikat, Eropa, hingga negara lain—mencerminkan kebijakan pertahanan yang lebih pragmatis dan berdaulat.
Dengan masuknya Rafale, A400M, radar GCI, dan sistem senjata pintar ke inventaris TNI, Indonesia hari ini bukan lagi sekadar negara dengan angkatan udara yang besar secara kuantitas. Ia sedang bergerak menuju kekuatan udara yang diperhitungkan secara kualitas.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.