TEMANGGUNG, PUNGGAWANEWS – Wafiq Zuhair tidak pernah membayangkan bahwa rentetan penolakan kerja akan membawanya ke sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar slip gaji bulanan.

Lulus kuliah pada 2019, Wafiq menghadapi kenyataan yang akrab di telinga banyak anak muda Indonesia: ijazah di tangan, tapi pintu kerja seperti kompak menutup rapat. Ia bukan dari keluarga berada. Tidak punya kenalan yang bisa menyelipkan namanya ke meja HRD perusahaan besar. Yang ia punya hanyalah tekad dan setumpuk formulir lamaran yang terus ia kirimkan, satu per satu.

Sekitar 50 perusahaan ia lamar. Hasilnya? Lima puluh kali pula ia harus membaca kalimat penolakan yang meski ditulis sopan, tetap terasa seperti pintu yang ditutup di hadapan muka.

Bagi sebagian orang, angka itu sudah cukup untuk menyerah. Tapi bagi Wafiq, cerita justru baru dimulai.

Di tengah kebuntuan itu, ia dan sejumlah rekannya mendirikan Yayasan Sahabat Pedalaman. Bukan organisasi yang main-main. Fokus mereka langsung mengarah ke persoalan yang selama ini jarang masuk radar publik perkotaan: akses masyarakat di wilayah terpencil Indonesia.