MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Banyak jemaah haji memilih mengurangi minum demi menghindari bolak-balik ke kamar mandi. Keputusan yang terlihat praktis itu, menurut petugas kesehatan haji, justru menyimpan risiko serius yang bisa mengganggu kondisi fisik di tengah cuaca ekstrem Tanah Suci.

Peringatan ini disampaikan Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, petugas kesehatan dari Sektor 1 Daker Bandara, dalam Seri Kesehatan Haji edisi kedua. Ia menegaskan bahwa strategi membatasi asupan air demi meminimalkan frekuensi ke toilet adalah kekeliruan yang berpotensi fatal.

Cuaca panas selama musim haji membuat tubuh kehilangan cairan jauh lebih cepat dari kondisi normal. Ketika jemaah memilih tidak minum, proses dehidrasi bisa berlangsung diam-diam sebelum tubuh sempat memberi sinyal yang jelas.

Dehidrasi bukan sekadar rasa haus yang mengganggu. Kondisi ini memicu serangkaian gangguan fisik: sulit berkonsentrasi, sakit kepala ringan hingga berat, tubuh terasa lemas, bahkan pingsan di tengah kerumunan. Bagi jemaah lansia atau yang memiliki riwayat penyakit tertentu, risikonya jauh lebih tinggi.