GAZA, PUNGGAWANEWS – Delapan warga Palestina gugur dalam serangan udara Israel yang kembali menghantam Jalur Gaza pada Minggu, 17 Mei 2026 — tiga di antaranya adalah pekerja dapur komunitas di Deir el-Balah yang sehari-harinya menyalurkan makanan bagi warga yang terjepit krisis.

Serangan terhadap dapur komunitas itu bukan insiden biasa. Fasilitas tersebut merupakan salah satu titik distribusi pangan yang masih beroperasi di tengah blokade dan kehancuran infrastruktur sipil Gaza. Ketika tempat seperti ini ikut menjadi sasaran, warga yang bergantung pada bantuan itu pun kehilangan satu-satunya sumber makanan yang tersisa.

Jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, yang melaporkan langsung dari Gaza City, menegaskan bahwa pola serangan ini mencerminkan sesuatu yang lebih dari sekadar operasi militer biasa. Ia menyebut bahwa sasaran kini bukan lagi hanya individu atau infrastruktur militer, melainkan organisasi-organisasi yang menjadi tulang punggung kehidupan warga sipil Gaza.

Hamas mengecam keras serangan itu. Kelompok tersebut menyebutnya sebagai “kejahatan perang yang disengaja” dan menilainya sebagai bagian dari apa yang mereka gambarkan sebagai genosida berkelanjutan terhadap rakyat Palestina. Mereka juga menyoroti sikap diam komunitas internasional yang dinilai secara tidak langsung memberikan ruang bagi Israel untuk terus melancarkan serangan.