Selain Rafale, TNI AU juga menerima empat unit Falcon 8X—pesawat angkut VIP berteknologi tinggi—serta satu unit Airbus A400M MRTT yang berfungsi sebagai pesawat tanker dan angkut militer. Dengan tiga jenis armada baru ini, kemampuan operasional lintas jarak jauh TNI AU meningkat signifikan.

Tak berhenti di situ. Pemerintah turut menyerahkan radar Ground Control Intercept atau GCI, sebuah sistem kunci dalam deteksi dan pengendalian ancaman udara. Radar ini memungkinkan TNI memantau dan merespons pergerakan objek di udara secara lebih presisi dan real-time.

Dua sistem persenjataan canggih juga ikut diserahterimakan: rudal Meteor dan Smart Weapon Hammer. Rudal Meteor dikenal sebagai salah satu rudal udara ke udara jarak jauh paling mematikan yang ada saat ini, sementara Hammer adalah sistem senjata pintar udara ke darat yang dikembangkan Prancis untuk serangan presisi tinggi.

Kombinasi Rafale dengan rudal Meteor dan Hammer menjadikan TNI AU memiliki paket sistem tempur yang terintegrasi dan kompetitif. Bukan sekadar penambahan armada, ini adalah lompatan kualitatif dalam doktrin perang udara Indonesia.