Gunung Anak Krakatau memang tidak pernah benar-benar tidur. Sejak kelahirannya dari kaldera letusan besar 1883 yang mengguncang dunia, gunung ini terus dan bergolak. Setiap letusan baru selalu mengundang perhatian — dan dalam era media digital yang serba cepat, selalu ada tekanan untuk hadir di lokasi, merekam, dan menyiarkan. Itulah yang membawa rombongan itu ke sana.

Namun laut di sekitar Krakatau bukan lautan biasa. Arus, gelombang, dan kondisi cuaca bisa berubah drastis, apalagi ketika aktivitas vulkanik sedang tinggi. Kapal-kapal kecil yang biasa digunakan para jurnalis dan kru lapangan menghadapi risiko yang jauh lebih besar dari yang tampak di permukaan.

Saat ini, keluarga para jurnalis dan kru kapal itu tentu sedang menjalani jam-jam yang paling berat. Menunggu kabar dari seseorang yang pergi meliput — dan tidak kunjung kembali — adalah jenis kecemasan yang tidak mudah diuraikan dengan kata-kata.

Seskab Teddy Indra Wijaya, di tengah menyampaikan perkembangan teknis operasi pencarian, juga tidak lupa menyisipkan doa. Ia berharap seluruh anggota rombongan dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat. Doa yang sama tentu bergema di ruang-ruang redaksi, di rumah-rumah keluarga, dan di hati jutaan orang yang mengikuti perkembangan berita ini.

Operasi pencarian masih terus berlangsung. Sebelas kapal itu masih menyisir lautan, waktu dan ketidakpastian. Negara sedang bekerja — dan publik menunggu kabar baik.



Follow Widget