Maka ketika delapan orang itu raib dari jangkauan sinyal, alarm berbunyi bukan hanya di kalangan redaksi — tetapi juga di istana.
Merespons instruksi Presiden, operasi pencarian pun digelar dalam skala yang tidak kecil. Sebanyak 11 kapal gabungan dari berbagai kesatuan diterjunkan untuk menyisir perairan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Armada pencari ini merupakan gabungan dari unsur TNI AL, Badan SAR Nasional, hingga Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai.
Kesebelas kapal yang terlibat dalam operasi tersebut adalah KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, KRI Lepu-861, KAL Anyer I-3-64, KAL Pohawang I-3-30, RBB Peucang Lanal Banten, RHIB SAR 02 Banten, RHIB SAR 02 Lampung, KN SAR Tetuka-247, KN SAR Basudewa-224, serta KP Sanjaya-7017. Nama-nama itu bukan sekadar deretan kode — masing-masing mewakili awak dan personel yang kini berjibaku dengan laut demi menemukan sesama.
Komposisi armada pencari ini mencerminkan betapa seriusnya negara menyikapi situasi tersebut. Tidak hanya mengandalkan satu lembaga, operasi ini merangkul kekuatan lintas institusi — sebuah respons yang memperlihatkan bahwa hilangnya para jurnalis ini diperlakukan sebagai kondisi darurat, bukan sekadar insiden biasa.
Ada ironi yang sulit diabaikan dalam peristiwa ini. Para jurnalis itu pergi ke Krakatau untuk meliput berita — dan kini merekalah yang menjadi berita. Kamera dan alat perekam yang mereka bawa untuk mendokumentasikan alam yang bergolak, kini menunggu tangan yang akan membawanya kembali ke darat.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.