MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Tujuh nama bersaing memperebutkan kursi Rektor Universitas Negeri Makassar periode 2027–2031. Mereka resmi mendapatkan nomor urut setelah mengikuti pencabutan nomor yang digelar dalam rapat Senat UNM di Lantai 14 Menara Pinisi, Rabu 28 Oktober 2026.
Pencabutan nomor urut ini bukan sekadar formalitas. Momen itu menandai babak baru dalam rangkaian pemilihan rektor yang akan menentukan arah kepemimpinan salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di kawasan timur Indonesia.
Dari tujuh bakal calon, Prof. Dr. Sukardi Weda, M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., tampil pertama dengan nomor urut 1. Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra UNM ini bukan nama baru di lingkungan kampus, ia sebelumnya pernah menduduki posisi Wakil Rektor III UNM.
Nomor urut 2 jatuh kepada Prof. Dr. Hj. Andi Aslinda, M.Si., yang saat ini masih aktif menjabat sebagai Wakil Rektor I UNM. Keikutsertaannya membawa dinamika tersendiri, mengingat posisinya yang strategis di jajaran pimpinan universitas saat ini.
Kandidat nomor urut 3 adalah Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono, M.Si., Guru Besar Fisika dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNM. Rekam jejaknya cukup panjang, ia pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor IV pada periode 2012–2016, dengan latar pendidikan dari Institut Teknologi Bandung dan University of Twente di Belanda.
Nomor urut 4 diraih Prof. Suwardi Annas, M.Si., Ph.D., Dekan FMIPA UNM yang tengah menjalani periode jabatan keduanya. Alumni Jepang ini dikenal memiliki jaringan akademik internasional yang luas, modal yang relevan bagi pengembangan universitas ke depan.
Dr. Arifin Manggau, S.Pd., M.Pd., yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNM, mendapatkan nomor urut 5. Posisinya yang dekat dengan mahasiswa menjadi latar belakang tersendiri dalam pencalonan ini.
Nomor urut 6 diperoleh Prof. Dr. Hj. Hasmyati, M.Kes., yang telah dua kali memimpin Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNM sebagai dekan. Pengalaman manajerial di level fakultas selama dua periode menjadi salah satu poin kuat yang ia bawa.
Kandidat terakhir, nomor urut 7, sekaligus yang paling menarik perhatian adalah Prof. Ismunandar, Ph.D., Guru Besar Kimia dari Institut Teknologi Bandung. Ia menjadi satu-satunya bakal calon yang berasal dari luar lingkungan UNM, membawa perspektif eksternal yang berpotensi mewarnai persaingan.
Ketua Panitia Pemilihan Rektor UNM, Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Idkhan, M.T., IPM., menjelaskan bahwa pencabutan nomor urut merupakan salah satu tahapan yang wajib dilalui seluruh bakal calon sebelum masuk ke agenda berikutnya. Ia menegaskan panitia berkomitmen menjalankan seluruh proses sesuai jadwal dan ketentuan yang berlaku.
Setelah pencabutan nomor urut, ketujuh bakal calon dijadwalkan menyampaikan visi, misi, dan program kerja mereka pada 2–3 November 2026. Ini adalah momen penting, saat publik kampus untuk pertama kalinya akan mendengar langsung arah kebijakan yang ditawarkan masing-masing kandidat.
Proses berlanjut dengan penilaian dan penetapan bakal calon rektor pada 4 November 2026. Tiga nama terpilih kemudian akan diserahkan kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 9–10 November 2026.
Setelah itu, rangkaian pemilihan memasuki masa tenang yang berlangsung cukup panjang, dari 11 November hingga 16 Desember 2026. Puncaknya, pemilihan rektor bersama Menteri Pendidikan Tinggi dijadwalkan pada 17 Desember 2026, dilanjutkan dengan penyusunan berita acara, pengumuman resmi, dan pelaporan hasil pemilihan.
Panitia berharap seluruh rangkaian tahapan berjalan tertib, transparan, dan akuntabel, dengan tetap menjaga suasana akademik yang kondusif di lingkungan kampus. Harapan lebih besar juga digantungkan pada proses ini, yakni lahirnya pemimpin yang mampu membawa UNM melangkah lebih jauh dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi dan memperkuat daya saing institusi di tengah persaingan pendidikan tinggi yang semakin ketat.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.