KENDAL, PUNGGAWANEWS – Sebuah tonggak baru dalam industri farmasi nasional ditancapkan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Rabu, 7 Oktober 2025, Muhammadiyah bersama PT Ausilabs Pharma Indonesia dan Ampro Singapore menggelar groundbreaking pembangunan pabrik yang digadang-gadang menjadi jembatan antara riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri manufaktur skala besar.

Ini bukan sekadar acara seremonial letak batu pertama. Di balik momen itu tersimpan ambisi besar, membangun ekosistem farmasi yang mandiri, bersertifikat halal, dan mampu bersaing di pasar global.

Kolaborasi yang melahirkan proyek ini melibatkan tiga pihak utama. PT Ausilabs Pharma Indonesia menggandeng Ampro Singapore sebagai mitra investasi internasional, sementara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah masuk melalui jalur Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Perpaduan antara kekuatan akademik, jaringan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, dan kapital asing menjadi fondasi proyek ini.

Rupesh Singh, Chairman PT Ausilabs Pharma Indonesia, tidak menyembunyikan optimismenya. Ia melihat Indonesia sebagai pasar farmasi dengan potensi yang belum sepenuhnya tergarap, dan kehadiran Muhammadiyah sebagai mitra dianggap bukan sekadar simbolik.

“Kami sangat percaya pada masa depan industri farmasi Indonesia,” ujar Singh. Ia menegaskan bahwa fokus pada sertifikasi halal dalam proses produksi sejalan persis dengan visi perusahaan yang ingin menembus pasar Muslim di Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Nilai strategis kolaborasi ini semakin terasa ketika Jebul Suroso berbicara. Rektor UMP yang sekaligus menjabat Komisaris PT Ausilabs Pharma Indonesia itu menegaskan bahwa pabrik di Kendal bukan proyek bisnis biasa. Ini adalah wujud konkret dari cita-cita hilirisasi riset yang selama ini sering mandek di atas kertas.

Menurut Jebul, UMP memiliki modal akademik yang solid. Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Farmasi, hingga unit rumah sakit milik kampus selama ini berjalan masing-masing tanpa kanal yang menghubungkan temuan riset dengan produksi nyata. Pabrik inilah yang akan menjadi kanal itu.

“Keberadaan pabrik ini secara langsung menjembatani kapasitas riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri manufaktur,” kata Jebul. Ia berharap kehadiran fasilitas produksi ini mampu memperkuat rantai pasok layanan kesehatan secara berkelanjutan, sekaligus mempererat hubungan antara pendidikan tinggi, riset, dan industri.

Dari sisi organisasi, Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir membingkai proyek ini dalam narasi dakwah ekonomi. Muhammadiyah, katanya, selama ini sudah mengelola ratusan rumah sakit dan klinik di seluruh Indonesia. Namun kekuatan di sisi pelayanan belum diimbangi kemandirian di sisi produksi. Ketergantungan pada pasokan dari luar masih menjadi titik lemah yang perlu segera diatasi.

“Kekuatan pelayanan kesehatan tersebut harus diimbangi dengan kedaulatan industri dan rantai pasoknya,” tegas Tafsir. Baginya, groundbreaking ini bukan seremoni, melainkan pernyataan sikap bahwa Muhammadiyah siap bermain di ranah industri strategis, bukan hanya sektor sosial dan pendidikan.

Tafsir juga menekankan pentingnya dampak berganda yang diharapkan dari investasi ini. Tidak hanya soal -obatan yang tersedia untuk jaringan rumah sakit Muhammadiyah, tapi juga perputaran ekonomi di tingkat lokal, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan ketahanan kesehatan nasional yang selama ini masih rentan.

Suara dari pihak investor asing tak kalah lantang. Mohd Ismail Shariff, Chairman Ampro Singapore, menyebut investasi ini bukan sekadar mengejar keuntungan finansial jangka pendek. Ia mengemas visi Ampro dalam satu frasa yang tegas, “from investment to impact.”

“Ampro bersama PT Ausilabs Pharma Indonesia siap berkontribusi aktif memperkuat ekosistem farmasi Indonesia, membuka ribuan peluang kerja, serta menghadirkan transfer keahlian teknologi di tingkat regional,” ujar Ismail. Ia berkomitmen membangun infrastruktur manufaktur berstandar global, bukan sekadar mendirikan pabrik lalu pergi.

Kehadiran pemerintah daerah dalam momen ini diwakili oleh Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari. Ia menyambut hangat keputusan investor memilih Kendal sebagai lokasi pembangunan pabrik. Bagi Dyah, investasi semacam ini adalah angin segar bagi daerah yang terus berupaya memperkuat basis industrinya.

Kendal memang bukan nama baru dalam peta investasi Jawa Tengah. Kawasan industri di wilayah ini telah menarik sejumlah investor asing dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran pabrik farmasi berstandar tinggi diharapkan menjadi magnet baru sekaligus mendorong multiplier effect bagi perekonomian masyarakat sekitar.

Agenda pembangunan pabrik ini mencakup sejumlah komitmen yang tidak main-main. Alih teknologi dari mitra internasional ke tenaga lokal menjadi salah satu klausul penting. Pemberdayaan tenaga kerja daerah diprioritaskan agar manfaat investasi tidak hanya mengalir ke kantong korporasi, tapi juga menyentuh kehidupan warga Kendal dan sekitarnya.

Aspek sertifikasi halal menjadi pembeda utama proyek ini dari pabrik farmasi konvensional. Dengan populasi Muslim yang mendominasi Indonesia dan pasar halal global yang terus , produk farmasi bersertifikat halal memiliki keunggulan kompetitif tersendiri. Ini bukan hanya soal keyakinan, tapi juga soal kepercayaan konsumen dan akses pasar yang lebih luas.

Proyek ini juga menegaskan satu hal yang sering luput dari perhatian, bahwa perguruan tinggi Indonesia sesungguhnya menyimpan potensi riset yang luar biasa. Yang sering kali kurang adalah ekosistem yang memungkinkan riset itu bergerak dari laboratorium menuju lini produksi. Pabrik di Kendal ini, jika berjalan sesuai rencana, bisa menjadi model konkret bagaimana universitas, industri, organisasi kemasyarakatan, dan investor asing bisa bekerja dalam satu sistem yang saling menguatkan.

Muhammadiyah, dengan jaringan rumah sakit, klinik, kampus, dan jutaan anggotanya, kini punya satu alasan tambahan untuk bangga. Dari meja kuliah di Purwokerto hingga lini produksi di Kendal, perjalanan halal buatan Indonesia tampaknya baru saja dimulai.



Follow Widget