“Dalam diri saya hanya ada satu: kehormatan,” ucap KDM, menggambarkan filosofi yang ia harapkan tertanam dalam diri setiap anggota Paskibraka. Kehormatan itu, lanjutnya, lahir dari jiwa yang putih—jiwa yang tak berharap apa pun selain kemuliaan dan masa depan bangsanya.

KDM juga menelusuri perjalanan panjang bangsa ini secara kronologis. Ia menyebut para leluhur yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sunda, Jawa, Palembang, Makassar, hingga ujung Nusa Tenggara Timur dan Papua sebagai pihak yang pertama berhak atas penghargaan dari bangsa ini. Merekalah yang meletakkan kerangka peradaban pertama di Nusantara.

Setelah itu, kata KDM, muncul generasi perumus sumpah pemuda, para bapak pendiri bangsa, kemudian para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan dengan darah dan air mata. Hingga akhirnya, estafet kepemimpinan berpindah dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto. Semua adalah bagian dari rantai panjang yang kini tongkatnya ada di tangan generasi muda.

Di sinilah KDM menatap langsung para Paskibraka yang berdiri di hadapannya. Ia sadar bahwa mengumpulkan pemuda yang bersedia menjalani seleksi Paskibraka kian hari kian sulit. Di era ketika generasi muda lebih akrab dengan layar gawai, kedai kopi, dan tren penampilan fisik, memilih untuk berlatih di bawah terik matahari, memotong rambut bergaya militer, dan meninggalkan kenyamanan rumah adalah pilihan yang tidak mudah.

KDM mengakui tantangan itu dengan jujur. Ia menyebut bahwa dahulu, sekadar terpilih mewakili kabupaten sudah menjadi kebanggaan luar biasa. Terpilih di tingkat provinsi adalah kemuliaan. Kini, antusiasme itu harus terus dipupuk agar tidak padam.



Follow Widget